pernahkah kau temui seseorang yang terlalu mudah tertawa? yang bisa terbahak-bahak meski hanya karna satu-dua hal kecil?
sebenarnya tanpa disadari oleh siapapun, ia adalah orang yang sangat sering menangis. dia begitu rindu tawanya  sendiri, sehingga hal-hal sederhana saja bisa membuatnya terpingkal-pingkal. 

Percakapan di Sebuah Angkot
  • Ingrid : Ruth, coffee cangkir itu dimana?
  • Ruth : Di dekat sini juga sih, kenapa emang gid?
  • Ingrid : Gapapa, sering aja liat orang update lagi disitu.
  • Ruth : Mau kesana ya? Aku juga pengen nyoba sih
  • Ingrid : Iya. Tapi masa kita berdua?
  • Ruth : Hahaha. Iya juga. Uda lama ya kita ga jalan bareng yang lain.
  • Ingrid : Iya. XXI baru aja belum dicobain.
  • Ruth : Hahaha nasib!
  • Ingrid : Ntar saking stresnya, kita beneran pigi berdua. Terus di dalam bioskop suap-suapan popcorn.
  • Ruth : Hahahahahaha. GILA!
  • Ingrid : Ketauan tu ngenesnya. Yang atu ldr, yang atu jomblo! Hahahaha.
“ketika kau mendapat sesuatu, kau sebenarnya juga harus siap kehilangannya. sebab embun telah mengajarkan banyak, dia datang dalam sekedip mata, lalu tiba-tiba menghilang di pelukan tanah.”

AYAH, aku lelah melawannya

aku babak belur

tak sanggup rupanya tanganku yang kecil ini, memukul mundur hal itu sendirian

sebab dimana kau? dimana aku?

ntah aku yang tak lagi mengerti, atau kau saja yang tak merasa kehilangan.

baiklah, aku tidak tahu.

cari saja aku dalam kenangan, dan kucari kau dalam ingatan.

kita impas kan?

tapi tidak juga, sepertinya hanya aku, hanya aku yang merindukan kita.

hanya aku yang merasa kecarian.

Terima Kasih! :)

hai pacar, lama tak menulis tentangmu.

jari-jariku rupanya sudah tak sabar memuntahkan kata-kata untukmu.

baiklah.

seseorang pernah berkata kepadaku, “carilah laki-laki yang tak hanya bisa mencintaimu, tapi sekaligus mampu menjadi sahabatmu.”

awalnya aku tidak setuju dengan kata-kata ini. kenapa pula aku harus menjadi sahabat bagi pacarku sendiri? apa maksudnya?

dan bersamamu, kutemukan jawabannya. ternyata dalam cinta pun, kita perlu menjadi seorang sahabat.

bagaimana bisa?

hm, begini Sayang, bersamamu, ternyata aku bisa percayakan bebanku, rahasia-rahasia yang selama ini hanya kupendam di dalam hati, bertahun-tahun. yang dulu tak pernah bisa kuungkapkan padamu kenapa aku begitu takut untuk percaya kepada cinta dan kesetiaan.

dan sekarang kau tau. kau bisa mengerti kan kenapa ketakutan itu selalu ada?

aku masih ingat kata-katamu yang mencoba meyakinkanku bahwa Tuhan mengembalikanmu dalam hidupku tidak untuk menyakitiku. dan sekarang aku percaya hal itu, lebih dari apapun. tapi bukan karena kau yang mengatakannya, lebih kepada… aku percaya Tuhan memang sudah mengaturmu, mempersiapkanmu untuk menjadi yang baik untukku, bertahun-tahun.

ya, memang empat tahun kau dipisahkan dariku.

tapi kau dikembalikan lagi kan? kenapa?

karena Tuhan ingin.

karena Dia tau, meski aku tak pernah memintamu lagi kepadanya, Dia tau kau yang aku butuhkan. bahumu sudah terlanjur menjadi tempat paling nyaman untukku menyandarkan lelah. hatiku sudah terlanjur sangat menyayangi keistimewaanmu.

hidupku, Sayang, penuh dengan kejutan. masih banyak yang belum kau tau. apa yang ada di balik tawaku, diamku, tulisanku, semuanya. aku dibentuk Tuhan dengan keras, dengan mengenal berbagai macam warna kehidupan, agar kepala ini tetap merunduk, agar telinga ini tidak tuli pada saat Dia mengatakan sesuatu, agar hati ini tetap selalu mencintai Nya.

dan salah satu warna itu, adalah kau.

Tuhan ingin mengajarkan padaku tentang kesetiaan. tidak hanya kau yang dituntut seperti itu, ternyata aku juga. dengan jarak, yang tak ingin kuhitung-hitung jumlahnya, Tuhan mau aku belajar bagaimana beriman kepada Nya. sebab Sayang, kita sama-sama tau, bukannya mudah mempertahankan cinta dengan kilometer yang jadi pemisah. bukannya mudah menjadi setia dengan banyak pilihan yang sebenarnya ada di depan mata. tapi satu yang ingin aku beritahukan padamu, Tuhan sedang ingin ajarkan kita, untuk tidak hanya percaya pada masing-masing pribadi kita, tapi lebih dari itu, kita harus percaya pada Nya bahwa segala sesuatu memang dirancangkan sempurna. apapun yang menunggu kita di depan nanti, tetap Tuhan yang menentukan.

tapi pacar, sahabat, apapun yang menjadi peranmu sekarang ini untuk hidupku, terima kasih untuk kehadiranmu. terima kasih sudah mau mengerti. memberi nasihat. menemaniku. bersabar mendengar keluhku dari telepon.

terima kasih untuk malam yang baik itu. seperti sebagian bebanku telah terangkat. seperti menemukan tempat lain untuk mengeluh.

sebab Tuhan itu baik, maka Dia kembalikan kau untuk hidupku. sebab Tuhan itu mencintaiku, maka Dia izinkan kau mencintaiku lagi. sebab Tuhan itu mengerti, maka Dia izinkan kau mengerti keadaanku.

terima kasih, Sayang! 

tetap jaga hati dan perhatian itu hanya untukku.

dulu pernah, di tiap sore, di hari minggu di masa senggang. aku dan dia yang tinggal sekamar akan menyingkirkan semua soal-soal tes perguruan tinggi negeri. itulah quality time kami, tempat kami bebas sejenak, rehat dari aktivitas mengejar mimpi. tak heran ketika dia harus pergi ke kota lain, dengan mudahnya aku menangis sesunggukan. takkan pernah lagi kutemukan sahabat yang bisa memaklumi dan kumaklumi sehebat dia.

yang aku rindukan dari dia adalah bagaimana kami bisa saling mengerti tanpa mengucapkan satu katapun. dia tak perlu mengatakan kesedihannya, aku sudah bisa cukup mengerti.

bagaimana di ulangtahunku ketujuh belas, dialah orang yang memberikan kejutan untukku jam dua belas malam. orang pertama yang berhasil melakukannya. dari dialah aku belajar untuk memperlakukan tiap orang yang kusayang dengan spesial, setidaknya aku harus memberitahu orang-orang itu bahwa mereka aku sayangi sepenuh hati.

namanya Elvy, dia sahabatku yang luarbiasa.

Tempatku Dulu Berbagi Mimpi :’)

saat di perjalanan pulang menuju rumah tadi, aku melihat sekelompok besar anak SMA yang baru pulang dari ritual sekali-seumur-hidup-corat-coret-baju-teman-tanpa-dimarahi itu. tawa dan kebahagiaan ada di tiap wajah mereka.

lalu kenangan dua tahun lalu menyelinap masuk ke dalam benakku.

aku pernah seperti mereka.

kututup mata, dan sekejap, aku bisa melihat suasana kelas itu lagi. tawa kami, mimpi-mimpi kami, doa-doa kami …kebersamaan kami. lengkap!

ternyata sekarang waktu tak hanya berjalan, waktu sedang berlari.

banyak sekali hal yang takkan kulupakan dari masa SMA. betapa mudahnya untuk bermimpi, dulu. betapa mungkinnya terwujud semua impian. karena kupikir bermimpi bersama mereka - meski impian itu berbeda-beda - tapi kami saling memiliki satu sama lain untuk mendoakan, untuk saling mendukung.

bersama teman sekelas, setiap upacara atau apel jumat, tak pernah sekali pun kami mendengar apa yang diucapkan oleh siapapun dari pengeras suara. kami punya dunia kami, kami harus berbincang tentang mimpi.

mereka yang tak pernah marah ketika setiap siang aku menjadi polisi patroli makanan, karena tidak punya uang yang cukup untuk membeli makanan di kantin, aku akan meminta sesuap demi sesuap bekal makanan siapapun di kelas itu, tanpa terkecuali. jus mereka saja sering aku habiskan tanpa kenal malu. ah, teman-teman terbaik ku.

yang baru saja merasakan pengalaman corat-coret itu, bisa saja tadi merasa sangat bahagia. lalu malamnya, mereka akan benar-benar merasa kesepian. mereka akan teringat, sebentar lagi, waktu bermain bersama teman-teman terbaik itu selesai. 

ada rasa sedih tiap mengingat mereka. ada rasa ingin kembali sekelas bersama mereka. waktu-waktu dimana aku tak pernah benar-benar merasa sendiri. rindu sekali. menyenangkan sekali mengingat mereka semua.

i can feel this day, guys, the day we feel so close each other :’)

i can feel this day, guys, the day we feel so close each other :’)

“aku hanya meminta satu hal kepada Tuhan, kebahagiaan kita diimbuhkan kata selamanya.”

zennasabrina:

Jauh darimu itu menyiksa. Jarak sangat mungkin mengasah kerinduan hingga runcingnya menghunjam aku dan bagian-bagian dariku yang tak nampak. Namun, tidakkah kau mengerti bahwa menjaga kerinduan, dan kecintaanku terhadapmu adalah menarik untuk setiap saat kutuliskan pada lembar kebahagiaan?

Jika…

“Kalau kamu menemukan perubahan pada sifat seseorang, kan tidak melulu juga berubah perasaannya.”
—(via zarryhendrik)
“Berdirilah di depan cermin, kemudian berpikirlah tentang apa yang mau kamu lakukan untuk seseorang di dalam cermin itu. Kira-kira begitu.”
—(via zarryhendrik)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 »
Paper Edge
Design by Athenability
Powered by Tumblr